Revitalisasi dan Institusionalisasi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi​

Latar Belakang

Strategi kebudayaan melalui pelembagaan Pendidikan Pancasila dalam kurikulum di perguruan tinggi, sejauh ini belum dilakukan oleh banyak universitas, terutama universitas Muhammadiyah. Seperti hampir semua perguruan tinggi lainnya di Indonesia, universitas Muhammadiyah masih menggunakan materi ajar Pendidikan Pancasila yang cenderung normative dan hanya menyasar tingkat kognitif, dengan emtode ajar konvensional yang monoton satu arah sehingga membosankan seperti ceramah dan diskusi tanya jawab secara terbatas di kelas. Karenanya, program ini mengusulkan kebaharuan (novelty) berupa piloting revitalisasi dan pelembagaan Pendidikan Pancasila, dengan tujuan membangun habitus Pancasila di Universitas Muhammadiyah Surakarta khususnya, untuk menjadi model bagi perguruan tinggi lainnya. Program ini menyasar keterlibatan para pimpinan universitas selaku pemangku kebijakan terkait kurikulum dan pedagogi, para dosen-akademisi selaku transmitter nilai-nilai dan pengetahuan, dan lapisan mahasiswa sebagai generasi milenial yang menjadi ujung tombak transformasi masa depan. UMS dipilih sebagai prime mover karena potensi peran strategisnya dalam menerjemahkan konsepsi Islam Berkemajuan, Moderasi Islam, Darul ‘ahdi Wasysyahadah ke dalam praksis Pendidikan di kampus. Fokus kegiatan ini pada mulanya lebih diarahkan secara internal untuk civitas akademika UMS dan beberapa perguruan tinggi di Solo. Namun, pada pelaksanaannya kegiatan ini justru dapat juga menjangkau lebih luas seperti keterlibatan peserta pelatihan dari pelbagai penjuru tanah air secara daring.

Beberapa terobosan positif untuk menguatkan toleransi dan inklusifisme telah dilakukan dua ormasi sipil Islam terbesar di Indonesia yang diakui sebagai penyangga pilar kebangsaan dan keadaban di Indonesia, yaiut Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama. Muhammadiyah pada Muktamar 2015 misalnya, meluncurkan visi Islam Berkemajuan dan mengukuhkan keputusan bahwa NKRI dan Pancasila merupakan Darul ‘Ahdi Wasysyahadah. Nahdlatul ‘Ulama dalam kurun waktu hampir bersamaan mempromosikan “Islam Nusantara” sebagai gerakan sipil untuk merawat kesatuan bangsa. Pada akhir 2018 Muhammadiyah merekonfirmasi pilihan jalan Islam Moderat, dan awal 2019 Mubes Nahdlatul ‘Ulama menganjurkan agar istilah pejoratif “kafir” tidak dilabelkan kepada sesama warga yang beragama non-Islam pada konteks relasi sosial kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, walaupun di tingkat elit pimpinan kedua ormas Islam ini telah mempromosikan Islam Berkemajuan, Islam Moderat dan Islam Nusantara untuk menopang NKRI dan Pancasila, secara kultural paradigma ini belum membumi ke tataran masyarakat umum dan akar rumput. Sejalan dengan itu, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP, 2018) menegaskan bahwa pembumian Pancasila menghadapi tantangan besar. Pada ranah pendidikan, terjadi penurunan intensitas pembelajaran, kurangnya efektivitas dan daya tarik pembelajaran, dan rendahnya tingkat kedalaman literasi terhadap Pancasila, sehingga kesadaran, pemahaman, dan penerapan Pancasila di kalangan terpelajar pun rendah.

Persoalan di atas diatasi dengan membekali dosen dan mahasiswa di perguruan tinggi dengan pengetahuan dan kemampuan untuk membina kerukunan dalam hubungan sosial yang adil, inklusif, dan damai dalam masyarakat Indonesia yang beragam. Serangkaian program sosialisasi dan internalisasi konsepsi dan praksis nilai-nilai Pancasila menggunakan pendekatan reflektif-andragogi. Seiring itu, pendekatan advokasi kebijakan digunakan untuk melembagakan program di tingkat perguruan tinggi, selain juga merintis platform jejaring kerjasama dengan lembaga-lembaga relevan seperti Majelis Pendidikan Tinggi PP Muhammadiyah, Kemenristek DIKTI, serta mitra universitas negeri dan swasta.

Meneguhkan habituasi ber-Pancasila dikalangan mahasiswa, ditengah perkembangan teknologi pesat serta kontestasi ideologi yang dinamis tentunya bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan upaya komprehensif yang didasarkan pada data yang valid dan desain program yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Untuk itu, dibutuhkan setidaknya 5 kegiatan dalam bentuk need assessment, advokasi kebijakan dengan pemangku kepentingan, penyusunan dan penerbitan modul, pelatihan untuk pelatih, serta pelatihan untuk mahasiswa secara lebih luas.

Program ini mengalami modifikasi yang cukup besar terutama dalam metode pelaksanaan pelatihan dan beberapa advokasi kebijakannya. Hal ini dikarenakan wabah COVID-19 yang melanda di Indonesia beberapa bulan terakhir.

Melalui kegiatan ini, ada dua kelompok penerima manfaat yang dilaporkan: dosen dan mahasiswa. Secara praktis, dosen menerima modul dan model pembelajaran yang telah direvitalisasi. Selain itu, dosen juga dibekali dengan kemampuan untuk mengimplementasikan model Pendidikan Pancasila secara daring. Hal ini dikarenakan salah satu produk RIPP-PT ini adalah video Power-Point bernarasi yang dapat menunjang pembelajaran jarak jauh. Pada salah satu pelatihan yang dilakukan oleh PSBPS, peserta (dosen) juga mendapatkan wawasan tentang pengelolaan pembelajaran berbasis internet.

Di sisi yang lain, mahasiswa memiliki bekal untuk memotret fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Kepekaan terhadap isu toleransi, inklusifitas, keadilan sosial dll yang kemudian diolah untuk dikampanyekan kepada masyarakat yang lebih luas. Ketercapaian pelatihan yang dilakukan melalui program RIPP-PT dengan tajuk Pancasila Lahir Batin ini adalah mahasiswa mampu memproduksi pelbagai konten seperti video, foto, tulisan, dan poster. Produk ini selanjutnya dikampanyekan melalui media sosial.

Ringkasan Hasil Program

Need assessment dilakukan untuk mengungkap data secara empiris permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Adapun hasil need assessment adalah sebagai berikut:

  1. Struktur Buku Ajar Mata Kuliah Pancasila di Perguruan Tinggi
    • Struktur/komponen buku ajar tidak lengkap (berdasarkan standar KEMENRISTEK DIKTI)
    • Materi cenderung dominan pada aspek kognitif
    • Materi belum memberi ruang bagi mahasiswa untuk berfikir kritis-analisis karena materi tidak menampilkan contoh kasus yang terupdate
  2. Prosedur Pembelajaran Mata Kuliah Pancasila
    • Capaian pembelajaran yang tertuang dalam RPS yaitu CPMK 1 dan 2 mata kuliah Pancasila belum dapat tercapai mengingat jika dilihat pada pelaksanaan pembelajarannya belum mengakomodir pikiran kritis dan analisis pada mahasiswa.
    • Alokasi waktu: tidak semua dosen memenuhi minimal pertemuan tatap muka
    • Metode yang sering digunakan adalah ceramah dan presentasi. Dengan demikian, mahasiswa belum terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran serta merasa senang dalam proses belajar
    • Sumber belajar: dosen menggunakan buku ajar wajib. Beberapa dosen juga menggunakan buku ajar lain serta bahan penunjang seperti audio visual.
    • Evaluasi terhadap soal ujian belum memngakomodasi keseluruhan level dari taksonomi Bloom (cenderung pada level mengingat dan memahami)
  3. Evaluasi penyelenggaraan, selama ini Lembaga Penjaminan Mutu tidak menyelenggarakan evaluasi secara langsung terhadap pembelajaran Pancasila

Evaluasi Mahasiswa terhadap Materi dan Prosedur Pembelajaran Mata Kuliah Pancasila

    1. Capaian pembelajaran mata kuliah Pancasila: mahasiswa tidak merasa mendapatkan peningkatan pemahaman mengenai Pancasila mengingat cakupan materi yang sama pada tingkat Pendidikan sebelumnya
    2. Alokasi Waktu: mahasiswa merasakan ada beberapa dosen yang tidak memanfaatkan waktu tatap muka secara optimal
    3. Metode:
      • Mahasiswa merasakan kebosanan karena dosen mengajar dengan metode ceramah, presentasi monotone serta pembelajaran yang tidak bersifat interaktif
      • Mahasiswa merasa bersemangat karena mendapatkan dosen pengampu mata kuliah Pancasila yang senantiasa mengajar dengan metode pembelajaran variative
    4. Sumber belajar:
      • Kurang beragamnya bahan ajar mengingat dosen hanya memberikan Salinan Power Point Presentation dan Buku Wajib dari Universitas
      • Dosen belum memanfaatkan media digitas seperti video, sosial media, blog serta E-Book untuk menunjang pembelajaran Pancasila

Evaluasi embelajaran mata kuliah Pancasila:

  1. Evaluasi proses pembelajaran: mahasiswa merasa bosan dan kurang memiliki ketertarikan mempelajari
    • Evaluasi terhadap hasil belajar (nilai MK): mahasiswa merasa puas karena mendapatkan nilai akhir Pancasila sesuai dengan keinginannya (orientasi mahasiswa dalam menempuh mata kuliah Pancasila karena Pancasila adalah mata kuliah wajib)
    • Implementasi Nilai-Nilai Pancasila oleh Mahasiswa dalam Kehidupan
      1. Relasi Sosial (Perbedaan Agama). Mahasiwa dapat menerima perbedaan, namun belum mampu menjalin kerjasama secara harmonis dengan orang yang berbeda agama
      2. Relasi Antar Teman. Mahasiswa memilih untuk membuat relasi kerjasama dengan teman yang seagama.

Temuan tersebut kemudian dirumuskan dalam beberapa rekomendasi yaitu:

  1. Perbaikan kualitas buku ajar baik dari segi presentasi maupun substansi
  2. Materi ajar Pancasila perlu diperbaharui dengan isu-isu terkini
  3. Pengajar Pancasila perlu menggunakan metode ajar yang variatif
  4. Dosen perlu mendapatkan pelatihan guna meningkatkan kapasitas dalam pengajaran Pancasila di Perguruan Tinggi

Tahapan program berikutnya adalah penyusunan modul baru yang mengintegrasikan ranah kognitif, psikomotor, dan juga afektif serta menyesuaikan dengan perkembangan metode pembelajaran yang mutakhir. Tahapan ini terlaksana dengan baik dengan tersusunnya modul Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi: Pancasila sebagai Laku. Modul ini dilengkapi dengan PPT bernarasi sebagai bentuk penyesuaian metode pengajaran yang lebih variatif dan sebagai respon atas wabah covid-19 yang melanda Indonesia awal Maret 2020 yang “memaksa” metode pembelajaran diubah dalam bentuk online.

Setelah modul tersusun maka tahapan berikutnya adalah melatih dosen dalam menggunakan modul di kelas dalam bentuk Training of Trainer Dosen. Kegiatan ini selain melibatkan dosen Pendidikan Pancasila di UMS juga mengundang beberapa dosen dari perguruan tinggi lain di wilayah Soloraya. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua kali penyelenggaran dengan pertimbangan untuk memberikan pelatihan pembuatan infografis dan kuis online untuk meningkatkan kompetensi dosen terutama dalam hal metode pengajaran secara online. Kegiatan ini berlangsung dengan lancar sesuai rencana dengan terlatihnya 29 dosen dalam menggunakan modul Pendidikan Pancasila dan juga infografis dan kuis online. 29 dosen yang mengikuti kegiatan ini berasal dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Islam Batik Surakarta, Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Universitas Veteran Sukoharjo. Peserta pelatihan ini terdiri dari 20 laki-lai dan 9 perempuan.

Pembelajaran Pendidikan Pancasila juga didesain untuk melatih mahasiswa untuk menjadi generasi yang memiliki pemahaman yang cukup tentang implementasi Pancasila, sekaligus mampu mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari serta menyebarkan nilai-nilai Pancasila melalui social media. Untuk itu tahapan program selanjutnya adalah pelatihan mahasiswa dimulai dengan melatih 46 mahasiswa dan kemudian dilanjutkan dengan 209 mahasiswa tingkat awal. Terlatihnya mahasiswa untuk membuat media campaign melalui kegiatan ToT mahasiswa dan pelatihan PancasilaLahirBatin menunjukkan bahwa program revitalisasi Pendidikan Pancasila telah berhasil. Peserta pelatihan sebanyak 46 mahasiswa terdiri dari 24 laki-laki dan 22 perempuan yang telah dilatih hadir dari beberapa universitas, diantaranya: Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Veteran Sukoharjo, dan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta.

Sedangkan 209 peserta yang mengikuti pelatihan terbagi dari 151 laki-laki dan 147 perempuan dengan sebaran usia 19-30 tahun. Latar belakang agama peserta meliputi: Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu, dan Baha’i yang berasal dari latar belakang geografis yang beragam, seperti: Solo Raya, Jakarta, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Ternate, Sumatera Barat, Batam, dll. Adapun latar belakang Pendidikan mereka dari: Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Perguruan Tinggi Negeri, dan Perguruan Tinggi Negeri/Swasta baik yang terafiliasi agama tertentu (IAIN, IAKN, dan STIAB) maupun tidak.

Di sisi lain, institusionalisasi Pendidikan Pancasila diwujudkan melalui program audiensi dengan pimpinan UMS, seminar kebijakan yang menghadirkan majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan juga pengelola Pendidikan Pancasila di beberapa universitas lain, dan pertemuan informal dengan beberapa pimpinan universitas baik secara langsung maupun visual karena menyesuaikan dengan situasi covid-19. Hasil yang bisa dicapai dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah:

  1. Modul Pendidikan Pancasila dipakai sebagai bahan materi Pendidikan Pancasila di UMS untuk tahun ajaran 2020-2001.
  2. Diterbitkannya surat Rekomendasi dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah tentang arahan penggunaan modul Pendidikan Pancasila yang disusun oleh PSBPS dan LPIDB di beberapa Universitas Muhammadiyah di Indonesia.
  3. Letter of Commitment dari beberapa perguruan tinggi lain dan asosiasi PPKn LPTIK PTM yang berisi dukungan terhadap program Revitalisasi dan Institusionalisasi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Secara rinci perguruan tinggi yang menandatangani LoC ini ialah:
    1. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
    2. Universitas Slamet Riyadi Surakarta
    3. Iniversitas Muhammadiyah Yogyakarta
    4. Universitas Islam Batik Surakarta
    5. Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
    6. Universitas Cokroaminoto Yogyakarta
    7. Universitas PGRI Yogyakarta
    8. Universitas Veteran Sukoharjo
    9. Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Rekomendasi

Rekomendasi terdiri dari 2 bagian, yakni yang berkaitan dengan materi dan metode ajar, serta model adaptasi pelatihan dan kampanye nilai-nilai Pancasila

  1. Materi dan Metode Ajar
    • Perlu adanya penyesuaian capaian pembelajaran dengan profil kompetensi lulusan (outcome-based learning)
    • Kontekstualisasi materi ajar mata kuliah Pendidikan Pancasila perlu dilakukan dengan memasukkan kondisi sosial yang faktual yang berkembang di lingkungan sosial
    • Perlu adanya perbaikan metode pengajaran Pendidikan Pancasila yang bersifat active learning dan experiential learning
    • Pengajar perlu mengembangkan kompetensi guna meningkatkan kapasitas dalam pengajaran Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi
  2. Pelatihan dan Kampanye nilai-nilai Pancasila
    • Pelatihan yang diadaptasi secara online perlu konstruksi materi yang lebih matang
    • Metode pelatihan secara online perlu diperkuat dengan terlebih dahulu menentukan dan memperkuat platform yang akan digunakan seperti MOOC, OpenLearning, dll.