Diseminasi Hasil Penelitian: Suluh Keadaban, Buku Ajar dan Guru Pendidikan Agama Islam Madrasah Aliyah di Indonesia

Bertempat di Gedung Induk Siti Walidah UMS, PSBPS menggelar diseminasi hasil penelitian kerjasama PPIM UIN Syarif Hidayatullah dan UNDP Indonesia dibawah koordinasi program CONVEY. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 18 Februari 2019 pukul 12.30-15.30 WIB.

Penelitian tentang intoleransi, eksklusivisme dan radikalisme yang terkandung dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) yang disosialisasikan oleh guru-guru agama, telah menjadi sorotan para akademisi. Guru dan buku ajar memainkan peranan penting bagi pembentukan corak keberagamaan dan karakter keislaman siswa. Keduanya menjadi actor dan media penting bagi siswa untuk memperoleh pengetahuan, menghayati nilai, dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam, sehingga membentuk pandangan, sikap dan prilaku sosial, atau ideologi. Berangkat dari asumsi dasar tersebut, penelitian hendak melakukan pemetaan muatan materi buku ajar  dan spectrum ideologi Guru PAI Madrasah Aliyah.

Penelitian ini meliputi lima kota-provinsi: Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, DKI Jakarta, dan Manado. Buku ajar PAI yang diteliti mencakup 4 mata pelajaran: Akidah Akhlak, Al-Qur’an Hadits, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dari kelas 10, 11 dan 12. Keempat bidang tersebut dijadikan fokus dalam penelitian ini berdasarkan dua alasan pokok. Pertama, mata pelajaran Akidah dan Sejarah Kebudayaan Islam diasumsikan berkaitan erat dengan penyemaian konflik ideologis karena dalam praktiknya sering dijadikan dasar teologis dan historisitas tradisi untuk mengekspresikan akhlak, mu’ammalah, dan interaksi sosial sesama umat Islam maupun antar-umat beragama yang majemuk. Kedua, bidang Al-Qur’an dan Hadits serta Fikih diasumsikan cenderung ditafsirkan secara normatif, dogmatik, dan literal-tekstual, sehingga berpotensi melahirkan perilaku yang kaku-eksklusif serta intoleran di tengah-tengah masyarakat akibat kurangnya kontekstualisasi dan pembumian seiring perubahan zaman dan peradaban.

Berdasarkan konten analisis buku ajar PAI dan wawancara mendalam terhadap guru PAI di Madrasah Aliyah secara garis besar temuan buku ajar dan guru memiliki korelasi yang kuat, yaitu memiliki semangt kuat pada moderasi Islam. Menurut Azaki Khoirudin, peneliti PSBPS yang merupakan dosen mata kuliah “Penyusunan Buku Ajar” PAI UMS, bahwa pada prinsipnya buku ajar maupun guru PAI di Madrasah Aliyah adalah moderat. Karena itu dalam temuan riset ini baik buku ajar maupun guru PAI Madrasah Aliyah sebagai “Suluh Keadaban”. Pertama, pada dasarnya buku ajar memiliki semangat moderat, bahkan kontekstual. Hal ini dikarenakan buku ajar PAI disusun dengan semangat pendekatan saintifik pada Kurikulum 2013. Selain itu, factor lain adalah komitmen pemerintah dalam hal ini Kemenang RI untuk mempromosikan Islam moderat menjadi kekuatan buku ini. Namun, semangat moderasi dan kontekstual ini di beberapa materi masih ditemukan mengalami kegagalan, sehingga masih ditemukan teks yang berpotensi melahirkan pemahaman Islam yang tekstual, konservatif, ekslusif dan sektarianisme. Terutama aspek akidah jika dilihat dari tujuan pembelajaran memang sangat bagus untuk melakukan kontekstualisasi akidah, akan tetapi belum berhasil sepenuhnya untuk mentransformasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, untuk guru PAI dan Madrasah Aliyah berbeda dengan temuan-temuan selama ini. Justru dalam riset ini ditemukan peran guru PAI di Madrasah mampu menjadi actor atau agen moderasi pemahaman Islam siswa dari pemahaman Islam yang ekstrem dan radikal yang didapatkan  dari komunitas-komunitas pengajian serta pengetahuan dari internet. Guru memiki sikap puritan dalam keyakinan, namun moderat dalam praktik hubungan di masyarakat.

Peran keagenan guru ini dijelaskan oleh peneliti lain, yaitu Dr. Sri lestari, merupakan Dosen Fakultas Psikologi UMS, bahwa guru PAI menjadi agen dalam mengajarkan Islam moderat pada siswa. Melalui pembelajaran dan praktek di sekolah, guru meneladankan sikap-sikap saling menghargai dengan sesama. Mengajarkan sikap toleransi terhadap perbedaan dengan memberikan wawasan keagamaan yang lebih luas pada siswa. Menekankan pentingnya mengacu rujukan otoritatif sebagai pijakan dalam berperilaku. Selain itu guru juga menjalankan peran penting dalam mengajak siswa untuk mengedepankan adab dalam bertindak. Di sinilah guru menjadi pemandu (fasilitator) bagi siswa yang sedang dalam proses mencari jati diri.  Akan tetapi kebanyakan guru PAI menyadari keterbatasan yang ada dalam buku tersebut, mendorong usaha-usaha kreatif para guru. Mereka melakukan inovasi dalam pembelajaran dengan beragam cara. Untuk itu, Internet dimanfaatkan sebagai salah satu sumber belajar. Ada pula tugas proyek membuat video sosiodrama yang menampilkan akhlak terpuji, untuk ditayangkan di kelas.

Penajaman intoleransi di kalangan siswa dipengaruhi oleh materi pengetahuan dan contoh sikap yang diberikan oleh guru di kelas disampaikan oleh Dra. Yayah Khisbiyah, MA Direktur Eksekutif PSBPS UMS, bahwa kesenjangan dan ambivalensi ditemukan pada sebagian guru untuk isu toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan budaya dan agama. Secara pengakuan verbal, hampir semua guru mengaku toleran dan inklusif, dengan kata lain, progresif. Namun dalam sikap dan perilaku konservatif. Contohnya, toleran dan menghargai umat Kristen, namun secara keras mengharamkan ucapan selamat Natal dan doa bersama lintas-iman antar sesama anak bangsa. Guru yang pandangan keagamannya intoleran akan cenderung memberikan dampak langsung pada pertumbuhan pandangan eksklusif siswa, demikian pula sebaliknya dengan guru yang toleran akan memengaruhi pembentukan pandangan inklusif siswa.

Dra. Yayah Khisbiyah, MA yang juga Dosen Faktultas Psikologi UMS berpendapat bahwa muatan Buku Ajar PAI untuk MA cukup komprehensif dan baik, namun ada sebagian kecil muatan teks yang kurang akurat, kurang kebaharuan, dan belum banyak dikaitkan dengan konteks budaya Nusantara. Yang lebih banyak adalah contoh-contoh dari budaya Arab atau Arab-sentris (Arab-centered). Buku ajar PAI relatif moderat secara umum, walau ada sebagian kecil muatan konservatisme berupa benih potensi kekerasan, intoleransi “kami versus mereka”.  Kandungan nilai-nilai Islam yang progresif sebenarnya cukup menonjol pada keempat mata pelajaran. Tapi, dimensi pedagogis yang dominan adalah kognitif, diikuti afektif. Dimensi implementasi perilaku belum cukup dikembangkan. Kebanyakan teks berhenti pada pengetahuan. Akibat adanya kesenjangan antara pengetahuan dengan sikap dan tindakan ini, maka tak heran jika perilaku siswa khususnya dan Muslim umumnya belum sesuai dengan pemahaman ajaran otentik Islam, beliau juga merekomendasi kepada Pemerintah khususnya Kementrian Agama dan ormas maupun Lembaga pendidikan Islam untuk merevisi dan memberbaiki kandungan buku ajar, memperbanyak buku dan sumber-sumber digital untuk suplemen mata pelajaran PAI dengan muatan moderat-progresif, meningkatkan kapasitas guru dalam hal orientasi keislaman, wawasan kebangsaan dan kemanusiaan di Madrasah Aliyah sederajat.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *